Home » Karawang » Warga Situdam Jatisari Keluhkan Pencemaran Di Sungai Cilamaya

Warga Situdam Jatisari Keluhkan Pencemaran Di Sungai Cilamaya

pencemaran sungai cilamaya

Pencemayan di Sungai Cilamaya, Desa Situdam, Kecamatan Jatisari Kabupaten Karawang (ilustrasi)

Warga yang bermukim di bantaran Sungai Cilamaya, tepatnya di Desa Situdam, Kecamatan Jatisari Kabupaten Karawang, mengeluhkan soal kondisi air ‎di aliran sungai tersebut. Pasalnya, air yang mengalir di sungai tersebut berwarna hitam pekat dan berbau menyengat.

Warga menduga air yang merupakan aliran‎ dari Kabupaten Subang dan Purwakarta itu telah tercemar limbah berbahaya dari perusahaan di dua kabupaten tersebut.

Kondisi ini, sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Sampai saat ini, warga di wilayah itu tak bisa menggunakan air tersebut. Padahal, aliran sungai itu menjadi salah satu sumber kebutuhan masyarakat.

Salah seorang tokoh pemuda Desa Jatisari, Bedi Sukarya mengatakan, pencemaran di aliran Sungai Cilamaya ini sudah berlangsung sejak 21 tahun lalu. Pihaknya mengaku, warga di desanya sudah melakukan berbagai upaya supaya pencemaran air ini bisa segera ditanggulangi oleh pemerintah.

“Kami sudah melaporkan‎ ke sana ke mari, tapi tetap saja tak ada yang merespon. Padahal, sudah puluhan tahun kami menderita seperti ini. Lingkungan jadi bau, airnya pun tak bisa digunakan,” ujar Bedi saat melakukan aksi protes bersama ratusan warga desa lain di sekitar pintu air Sungai Cilamaya, Selasa (1/8/2017).

“Ada sekitar delapan perusahaan dari Purwakarta yang membuang limbahnya. Pabrik kertas dan tekstil yang buang limbah cukup parah,” lanjutnya dia.

‎Hal senada juga diungkapkan warga lainnya, Anto Abeng. Dia menilai, pemerintah seperti tutup mata menyikapi persoalan tersebut. Seharusnya, pemkab sigap dalam upaya menuntaskan persoalan yang dialami warga.

Jangan hanya karena warga di desanya ini selalu pasrah, meskipun pencemaran air terus terulang, sehingga tak ada perhatian apapun dari pemerintah.

“Persoalan ini tak bisa dibiarkan berlarut-larut,” ujar pria yang juga Ketua Forum Komunikasi Pemuda Jatisari itu menambahkan.

Abeng pun berencana mengambil langkah hukum, jika tak ada itikad baik untuk menyelesaikan persoalan tersebut dari pihak-pihak terkait .

Sementara itu, Kepala Desa Balonggandu, Kecamatan Jatisari Suhana menambahkan, pihaknya pun berencana menemui sejumlah pihak untuk duduk bersama.

Tak hanya itu, pihaknya pun berencana menemui dua kepala daerah, yakni Subang dan Purwakarta. Pasalnya, warga menduga pencemaran ini akibat banyak perusahaan di dua wilayah itu sengaja membuang limbahnya ke sungai tersebut.

“Kita akan temui pemerintahan di kedua kabupaten tetangga ini,” ujarnya.

Mengganggu Proses Belajar

Bau menyengat yang berasal dari sungai Cilamaya juga mengganggu proses belajar di SDN Situdam 1, Desa Situdam, Kecamatan Jatisari.

Daffa Hidayat, siswa kelas enam SDN Situdam 1 Jatisari, mengatakan, bau limbah dari air sungai ini sudah sangat mengganggu.

“Setiap hari, udara di kelas kami sangat buruk. Baunya bikin mual,” ujarnya, kepada sejumlah media, Selasa (1/8).

Menurut Daffa, jarak sekolahnya ke bibir Sungai Cilamaya ini hanya beberapa meter saja. Jadi, sangat wajar bila setiap hari, kegiatan belajar terganggu dengan bau limbah yang menyengat.

Ia ingin kondisi ini segera teratasi. Supaya, pelajar di sekolah ini bisa menghirup udara yang segar saat musim kemarau. Sedangkan saat musim penghujan, limbah cair dari hulu itu tak terlalu kentara. Sebab, debit sungainya besar. Sehingga, air limbah itu terbawa sampai ke hilir.

“Kita ingin, udara di sekolah ini segar. Supaya, kita bisa konsentrasi belajarnya,” ujarnya.

Sementara itu, guru kelas enam SDN Situdam 1 Jatisari, Asdi Yahya Sudarwat, membenarkan bila setiap musim kemarau udara di lingkungan sekolah sangat bau. Hal itu, disebabkan pencemaran Sungai Cilamaya yang jaraknya ke sekolah hanya 10 meter.

“Puluhan tahun kami seperti ini. Setiap musim kemarau, udara di sekolah kami selalu bau,” ujarnya.

Bau limbah ini, tentunya sangat menganggu kegiatan belajar. Tak hanya guru, anak-anak juga mengeluhkan hal yang sama. Kondisi ini sudah dilaporkan ke UPTD maupun instansi terkait. Akan tetapi, hingga saat ini belum ada solusi nyata atas pencemaran Sungai Cilamaya ini.

KLHK Periksa Tingkat Pencemaran Sungai Cilamaya

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan akan memeriksa tingkat pencemaran Sungai Cilamaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, menyusul banyaknya laporan terkait pencemaran sungai tersebut.

“Saat ini kita sedang melakukan verifikasi dan pengambilan sampel air. Nanti akan kita ketahui bagaimana tingkat pencemaran,” kata Staf Pengendalian Pencemaran Air Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Sigit Walgito di Karawang, Selasa (1/8).

Pihak KLHK saat datang ke Karawang melakukan pengambilan sampel air di Bendung Barugbug untuk memastikan tingkat pencemaran Sungai Cilamaya. Sigit menyatakan air sungai itu bau dan jika melihat fisik di Bendung Barugbug terindikasi adanya pencemaran. Tetapi untuk kepastiannya, dipastikan melalui uji laboratorium.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Karawang Wawan Setiawan menyatakan, pihaknya telah menurunkan tim untuk menyelidiki tingkat pencemaran di Bendung Barugbug. Langkah koordinasi juga akan segera dilakukan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat, untuk menangani permasalahan sungai Barugbug yang selama ini tidak pernah terselesaikan.

Sementara itu, sudah 10 tahun lebih warga di sekitar kawasan Bendung Barugbug, Desa Situdam, Kecamatan Jatisari, Karawang harus hidup dengan menahan bau busuk limbah industri.

Bendung Barugbug merupakan bendung pembagi air sungai untuk kebutuhan irigasi pesawahan di Kecamatan Jatisari, yang mengandalkan sumber air dari Sungai Cilamaya yang berhulu di wilayah Kabupaten Subang dan Purwakarta dan Sungai Ciherang yang berhulu di Purwakarta.

Pembuangan limbah industri dari wilayah Purwakarta ke Sungai Cilamaya menyebabkan polusi sungai yang berdampak terhadap kehidupan masyarakat di sekitar Bendung Barugbug.

Leave a Reply

%d bloggers like this:
Free WordPress Themes - Download High-quality Templates